Gelar Temu Agen, AKR Gallery West Bersama Brighton Siap Memimpin Pasar Superblok Jakarta Barat

“Pandangan saya tetap berpijak pada fundamental pasar, termasuk meningkatnya kebutuhan akan ruang hunian dan bisnis seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi.”

Sebagai bagian dari AKR Corporindo, AKR Land telah mengerjakan berbagai proyek properti mewah di seluruh Indonesia, mulai dari resor dan kawasan hunian hingga kawasan komersial. Bisakah Anda menceritakan latar belakang perusahaan dan strategi utamanya ke depan?

Selama enam hingga tujuh tahun terakhir, AKR Land aktif di sektor properti. Hal ini didukung oleh struktur demografi Indonesia saat ini: lebih dari 50% penduduk berusia di bawah 30 tahun, sementara laju pertumbuhan penduduk terus melampaui rata-rata global. Kelas menengah di Indonesia juga berkembang pesat. Tren ini meningkatkan kebutuhan akan properti untuk pusat rekreasi, usaha baru, dan hunian yang menawarkan kualitas hidup lebih baik. Karena itu, visi AKR Land adalah menjadi yang terdepan dalam menyediakan fasilitas gaya hidup, rekreasi, dan bisnis guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Kami percaya dapat membangun pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan dengan memperoleh pendapatan dari penjualan maupun pendapatan berulang. Kami memperkirakan harga properti di Indonesia akan terus meningkat, didorong oleh faktor demografi yang telah dijelaskan. Karena itu, strategi kami adalah mempertahankan sebagian aset properti agar dapat memperoleh manfaat dari kenaikan nilainya. Melalui strategi pertumbuhan berkelanjutan serta fokus pada inovasi dan keunggulan operasional, kami berupaya memaksimalkan nilai bagi para pemangku kepentingan.

Belakangan AKR Land mengembangkan beberapa proyek, termasuk Gallery West, kompleks bisnis terpadu di Jakarta Barat yang dijadwalkan selesai pada akhir 2016. Apa lagi yang dapat Anda ceritakan tentang proyek-proyek mendatang?

Selain proyek Gallery West, kami juga mengembangkan properti di Surabaya karena kami meyakini kota ini akan tumbuh lebih cepat daripada Jakarta. Pasar di Jakarta dan Jawa Barat secara umum sudah jenuh, dan kondisi ini akan berlanjut jika tidak ada pembangunan infrastruktur besar yang baru. Di sisi lain, Surabaya adalah kota terbesar dan paling makmur kedua di Indonesia, tetapi masih memiliki ruang untuk pertumbuhan properti kelas atas. Karena itu, AKR Land mulai mengembangkan menara perkantoran, apartemen, dan hotel di Surabaya, serta kawasan industri dan pelabuhan terpadu seluas 800 hektare di Gresik, Jawa Timur, yang berjarak sekitar 20 menit. Proyek ini akan mencakup marina, fasilitas yang belum tersedia di Surabaya, berbeda dengan Jakarta yang memiliki banyak fasilitas perahu dan yacht.

Perusahaan kami juga mengembangkan proyek di Manado dan Bali. Kami meyakini Bali akan terus menjadi ikon pariwisata Indonesia, sementara Manado memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi baru. Meski proyek-proyek kami selama ini disesuaikan dengan kebutuhan tiap daerah, belakangan kami juga berfokus pada pasar rekreasi karena kelas menengah yang terus bertumbuh semakin mencari tempat untuk bersantai dan berlibur.

Dalam sepuluh tahun terakhir, sektor properti Indonesia diuntungkan oleh meningkatnya daya beli masyarakat dan tumbuhnya kelas menengah. Namun, sektor ini juga menghadapi sikap yang lebih berhati-hati akibat kenaikan suku bunga dan Pemilu 2014. Dengan kondisi tersebut, bagaimana pandangan Anda terhadap sektor properti Indonesia?

Jika dibandingkan dengan lima ibu kota terbesar di ASEAN—Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, dan Manila—harga properti di Jakarta masih paling terjangkau. Di kota-kota terbesar kedua di Indonesia, harganya bahkan lebih rendah.

Kenaikan suku bunga juga dapat dipahami sebagai upaya pemerintah untuk mencegah gelembung harga properti dan memastikan hunian tetap terjangkau bagi lebih banyak masyarakat. Kebijakan serupa juga diterapkan di Singapura, Malaysia, dan Hong Kong.

Karena itu, pandangan saya tetap berpijak pada fundamental pasar, termasuk meningkatnya kebutuhan akan ruang hunian dan bisnis seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi. Potensi sektor properti di Indonesia masih sangat besar, terutama jika pemerintah membuka sektor ini bagi investasi asing.

Pemerintahan baru akan segera mulai bertugas. Apa yang Anda harapkan dari pemerintahan Joko Widodo terkait upaya mendorong sektor properti Indonesia?

Menurut saya, Jokowi akan berupaya membangun infrastruktur, yang pada akhirnya turut meningkatkan harga properti. Langkah ini menjawab salah satu tantangan saat ini: harga properti terus naik meskipun pembangunan infrastruktur masih tertinggal.

Pemerintah baru juga perlu mendorong tersedianya pinjaman perumahan dengan tenor lebih panjang. Ketika harga rumah dan apartemen meningkat, masyarakat membutuhkan waktu lebih lama untuk melunasi kredit pemilikan rumah. Saat ini, memperoleh KPR dengan tenor di atas sepuluh tahun masih sangat sulit di Indonesia, sementara negara lain menyediakan tenor hingga 30 tahun. Perbaikan dalam hal ini dapat membantu lebih banyak generasi muda Indonesia membeli rumah pertama.

Bagaimana posisi AKR Land dalam menjalin kolaborasi dengan investor internasional dan mitra asing yang ingin memulai usaha patungan bersama perusahaan lokal berpengalaman?

Bisnis properti membutuhkan arus kas jangka panjang, sehingga kami memerlukan mitra. Proyek-proyek yang sedang berjalan membuka peluang kerja sama, misalnya untuk pengembangan fasilitas seperti lapangan golf di Grand Estate and Marina Gresik. Untuk menjamin pasokan listrik dan air bersih yang andal, kami juga akan membangun pembangkit listrik dan fasilitas pengolahan air di dalam kawasan. Proyek-proyek semacam ini berpotensi membuka ruang kolaborasi.

Di tingkat grup, kami juga tertarik menjajaki peluang di luar Indonesia dan terbuka untuk berinvestasi di luar negeri. Kami sudah melakukannya di sejumlah pasar, termasuk Tiongkok.

Sebagai pesan penutup, apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca Global Business Guide Indonesia tentang Indonesia dan AKR Land?

Silakan datang dan berinvestasi di Indonesia saat negara ini bersiap memasuki fase pertumbuhan pesat. Pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan melampaui USD 5.000 pada 2015 dan ditargetkan mencapai setidaknya USD 12.000 dalam 20 tahun ke depan. Jika target ini tercapai, para investor di Indonesia akan memperoleh peluang keuntungan yang besar.

Bagikan

Artikel Terkait

Scroll to Top